Twitter: @Nickname_Rendy
e-mail: Rendymertadiwangsa@gmail.com

Pembuktian Akhir Hayat


Langkah kaki tegas seorang pria dewasa terdengar dari kejauhan di hari yang belum terlalu siang. Pria itu menuju mushalla kecil yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Mushalla yang sangat sederhana, yang besarnya kira-kira hanya cukup untuk menampung 50-an jamaah dengan tembok kumuh dan atap yang sudah using. Di situlah pria ini sering menghabiskan waktu untuk beribadah. Sesampainya di mushalla itu, dia mengambil air wudhu dan bersiap untuk shalat duha, rutinitas yang dia lakukan setiap hari sebelum dia pergi untuk bekerja.
Pria itu bernama Rizan, pria yang berperawakan tidak terlalu tinggi, tidak terlalu kurus tetapi mempunyai wajah rupawan yang menyejukan. Seakan-akan karisma senantiasa keluar dari tubuhnya. Di sebuah desa di kawasan yang terpencil dia tinggal bersama kedua orang tuanya. Rumah yang sangat sederhana, yang hanya terbuat dari bilik-bilik bambu dan beratapkan rumbia dengan hanya berlantaikan tanah, di situlah Rizan dan orang tuanya menetap. Sangat sederhana, bahkan bisa dibilang miskin. Ayah Rizan hanya bekerja sebagai kuli batu yang berpenghasilan sangat minim dan Ibunya hanya sebagai kuli cuci. Walaupun demikian terbatas kehidupannya, tetapi Rizan tidak pernah sekalipun mengeluh. Dia merasa sangat kaya, dia bersyukur dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya. Jika dibandingkan remaja sekarang, yang hanya mengejar dunia, tanpa memikirkan akhirat, hanya dapat menyombongkan kekayaan orang tuanya, berbeda jauh dengan kehidupan yang dijalani Rizan yang serba kekurangan tapi tetap bersyukur. Potret anak yang sangat diidamkan oleh orang tua manapun.
Hari ini, terakhir kalinya ia dapat melaksanakan ibadah di mushalla itu. Karena sebelum maghrib, dia akan berangkat, merantau ke ibu kota. Demi menggapai cita-citanya, mendapatkan rezeki dari jalan Allah. Orang tua Rizan sangat berat mengizinkan Rizan pergi, mereka tahu betul bagaimana keadaan ibukota. Terlebih lagi, Rizan hanya lulusan SMP dan tidak memiliki pengalaman apa-apa. Dia pernah bekerja, sama seperti ayahnya, tetapi apakah itu cukup untuk modalnya nanti di ibu kota? Jelas tidak! Saingan di ibu kota keras, seperti kata pepatah “ Lebih keras ibu kota daripada ibu tiri “. Inilah alasan yang memberatkan orang tua Rizan untuk memberikan restunya. Tekad Rizan sudah bulat, ia berniat memperbaiki kehidupan ia dan keluarganya, tanpa melanggar aturan islam. Apapun akan ia kerjakan, yang penting halal. Melihat tekad dari anaknya yang sangat besar, akhirnya orang tua Rizan mengizinkan. Hari keberangkatan akhirnya tiba. Dengan membawa pakaian secukpunya, dan membawa uang yang sangat tidak cukup, tetapi berbekal tekad, niat dan doa yang lebih dari cukup, Rizan pergi, tidak lupa ia mencium tangan kedua orang tuanya, seraya pamit.
“Bu, Pak, doakan Rizan ya! Allah pasti membantu hambanya yang membutuhkan. Rizan akan pulang kelak, jika sudah mampu dan memiliki istri. Assalamualaikum !”
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya Rizan sampai di ibu kota. Uang yang dia punya, hanya cukup untuk membayar sebuah kos-kosan kecil dan untuk biaya hidupnya selama beberapa hari. Itu artinya ia harus segera mendapatkan pekerjaan. Rizan bingung, entah apa yang harus dia lakukan. Setelah beberapa saat berpikir, dia ingat tentang apa yang di katakan ustadz di daerahnya, bahwa bedagang adalah hal yang dianjurkan untuk mencari nafkah. Akhirnya Rizan melamar kerja sebagai pedagang roti keliling.
Dengan doa, dan izin Allah, akhirnya Rizan mendapatkan pekerjaan. Setiap hari dia menjajakan roti, tanpa kenal lelah. Walaupun dia bekerja keras, Rizan tidak pernah ketinggalan untuk melaksanakan ibadah, kewajiban yang harus ia lakukan sebagai umat muslim, tidak hanya itu, setelah selesai berjualan, dia kerap mengajarkan anak-anak di sekitar kosnya untuk mengaji. Gratis! Tanpa mengharapkan imbalan. Karena dia tahu, bahwa rezeki sudah di atur.
Keuntungan yang Rizan dapat dari 1 buah rotinya adalah Rp. 350-,. Dia bisa saja menaikan hatrga rotinya, seperti yang dilakukan pedagang lain, tapi Rizan tidak begitu. Tiap harinya ia dapat menjajakan roti sebanyak 200 buah, hasil yang lumayan untuk membiayai kehidupannya. Tiap hari, makin banyak roti yang terjual. Dalam 1 bulan saja, Rizan dapat mengantongi keuntungan sebesar 1 juta rupiah, ini semua diluar perkiraan Rizan.
Pada suatu hari, saat Rizan sedang menjajakan roti di sebuah pemukiman elite, dia bertemu seorang gadis, berjilbab, yang menggugah hatinya. Wanita itu membeli roti dari Rizan, di situlah awal pertemuan Rizan dan wanita itu. Ternyata, wanita itu jatuh cinta kepada Rizan, pria yang jujur, tekun dan shaleh. Wanita itu sangat mengidamkan suami seperti Rizan. Karena penasara, wanita itu berani mencari tahu tentang Rizan. Dia menanyakan nama da alamat tempat tinggal Rizan ke pabrik roti, tempat dimana Rizan bekerja.
Halimah nama wanita itu, berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya bekerja di bidang property. Bisa dibilang, ayah Halimah sukses dalam menjalankan bisninya. Halimah adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Halimah memiliki 2 kakak pria. Didikan ayah Halimah sangat disiplin, tetapi sayangnya mengenyampingkan masalah agama. Yang ada dipikiran ayahnya, hanya urusan dunia. Sukses dimatanya adalah bermateri melimpah, tanpa memikirkan kekayaan akhlak. Walaupun begitu, Halimah tidak serta merta meninggalkan masalah agama. Dia tetap shalat 5 waktu, dan menjalankan ibadah lainnya. Ini yang membuatnya berbeda dengan kakak-kakaknya. Dalam pikirannya, sangat penting mengejar kekayaan untuk bekal di akhirat, daripada memikirkan kekayaan dunia yang hanya sementara.
Setelah Halimah mendapatkan alamat Rizan, dia mengajak teman-temannya untuk belajar agama. Halimah mengetahui kalau Rizan mempunyai ilmu agama yang melampaui pria seusianya, ia pun tahu kalau Rizan sering membuka pengajian bersama di kosnya. Semua informasi ini dia dapatkan dari bos pemilik usaha roti, dimana Rizan bekerja. Niat Halimah, murni hanya ingin memperkaya ilmu agamanya, tetapi tidak dipungkiri perasaan cinta Halimah terhadap Rizan mulai terasa. Dia sering membayangkan, betapa bahagianya jika ia memiliki anak dari seorang pria yang taat beragama, Rizan akan menjadi suri tauladan yang baik buat anak-anaknya nanti. Ah! Itu hanya dalam benak Halimah saja, hanya khayalan saja. Tanpa sepengetahuan Halimah, Rizan pun menaruh perasaan terhadapnya. Dia jatuh cinta kepada sifat Halimah yang anggun, sederhana dan taat beragama. Dia berpikir, kenapa orang kaya, mau datang ke pemukiman kumuh tempat ia tinggal, padahal ayahnya bisa saja menyewa guru agama yang ilmunya lebih tinggi dibandingkan dia. Ini pula yang membuat Rizan semakin jatuh hati terhadap Halimah.
Pada satu waktu, setelah melakukan shalat ashar, Rizan memberanikan diri untuk meminta izin kepada Halimah, agar ia dapat melamarnya. Dia takut kepada Allah, kalau perasaan ini dipendam, akan timbul maksiat. Tanpa Rizan sangka, Halimah dengan senang hati menerima. Tetapi ada yang mengganjal di hati Rizan, ia takut menghadapi ayah Halimah yang notabene sebagai keluarga terpandang. Sedangkan Rizan, hanya pria yang desa yang bekerja sebagai pedagang roti. Sungguh tidak pantas ia mendapatkan seorang Halimah.
Dia sangat mencintai Halimah, mencintai seorang ciptaan Allah, yang didasari atas cintanya kepada Allah. Dia berpikir, semua umat manusia sama, yang membedakan hanya ketakwaannya saja. Dengan bermodalkan kalimat tersebut, Rizan memberanikan diri untuk melamar Halimah. Rizan menghadap orang tua Halimah di rumahnya. Baru sampai di halamannya, kaki Rizan gemetaran. Betapa megah bangunan ini. Dengan tekad yang kuat, Rizan masuk. Setelah menyampaikan salam, Rizan bertemu ayah Halimah.
“Kau pria yang bernama Rizan?” ucap ayah Halimah.
“Iya pak” jawab Rizan, tegas. Rizan berpikir dalam hati. Pasti Halimah telah menceritakan maksud kedatanganku kesini.
“Saya ingin melamar anak Bapak, apakah bapak berkenan?”. Rizan memulai perjuangannya untuk mendapatkan Halimah.
“Kenapa saya harus menerima lamaranmu? Apa yang kau punya?”
Pertanyaan ini tidak mengejutkan bagi Rizan. Sebagai orang terpandang, pertanyaan ini pasti dilontarkan. Dengan tenang Rizan menjawab.
“Saya hanya memiliki cinta dan cita-cita. Cinta yang didasari atas izin Allah SWT. Dan cita-cita untuk membuat Halimah menjadi istri yang shalehah. Diluar itu, saya akan melaksankan kewajiban saya sebagai seorang suami. Dengan menafkahi Halimah lahir batin. InsyaAllah, itu cukup”
“Hahahahaha, apa yang kau pikirkan anak muda? Semua yang kau butuhkan didunia ini, harus dibayar dengan uang. Bagaimana caranya kau membahagiakan anakku, sedangkan kau hanya bekerja sebagai tukang roti keliling” ejek ayah Halimah. “Begini saja, saya beri waktu 3 bulan. Bila engkau sudah sukses kembalilah kesini. Dengan senang hati saya akan mengizinkan engkau meminang anak saya. Selama waktu tersebut, kau tidak boleh bertemu dan berkomunikasi dengan Halimah”.
Rizan berpikir sejenak. Dia rela berkorban, asalkan itu demi kebahagiaan Halimah.
Dengan lantang dia menjawab. “InsyaAllah, saya mampu. Saya akan buktikan, kalau saya bisa sukses dan dapat membahagiakan Halimah”.
Kesepakatan pun terjadi, dia menceritakan semuanya kepada Halimah. Halimah senang, sekaligus sedih. Dia senang, karena Rizan rela berkorban untuknya. Ia sedih, karena ayahnya menolak lamaran Rizan. Yang ia dapat lakukan sekarang, hanya berusaha dan berdoa.
Ada fakta memilukan yang tidak diketahui Rizan. Ternyata Halimah memiliki penyakit mematikan, yang lambat laun telah menggerogoti tubuhnya. Halimah sadar akan hal itu, tetapi dia tidak mau menceritakan hal tersebut kepada Rizan.
Tidak terasa telah hampir 3 bulan, Rizan telah membuktikan bahwa ia bisa sukses. Dengan modal uang yang dia tabung dan ketekunan dia bekerja, serta tidak lupa berdoa, dia dapat membangun pabrik roti sendiri. Dia telah memiliki sebuah rumah dan mobil pribadi. Dia senang, karena sebentar lagi dia dapat bertemu Halimah.
Pada suatu sore, rumah Rizan kedatangan seorang tamu. Tamu penting. Orang yang sangat ingin Rizan temui. Dia adalah ayahnya Halimah. Rizan telah mendapatkan firasat buruk. Entah apa yang ia pikirkan sekarang. Ia coba menyangkal pikiran itu, tetapi pikiran itu terlalu kuat.
“Halimah membutuhkanmu sekarang. Dia dirawat di Rumah Sakit, karena penyakit yang ia derita. Bisakah engkau membantuku untuk menemui Halimah?” ajak Ayah Halimah.
Hati Rizan tercabi-cabik mendengar kabar itu. Dia sangat sedih. Entah apa yang harus dia lakukan. Dengan wajah yang tidak berekspresi, dia menjawab “Iya pak, kita segera ke Rumah Sakit sekarang”.
Betapa terkejutnya Rizan, sesampainya ia di Rumah Sakit. Rizan melihat keadaan Halimah yang begitu memprihatinkan. Selama ini, Halimah telah menderita kanker rahim stadium akhir. Sudah terlambat untuknnya menjalankan operasi, karena kankernya sudah menyebar. Vonis dokter mengatakan, bahwa Halimah hanya berumur 3 bulan lagi.
Walau masih dalam keadaan sadar, Halimah sangat rapuh. Tubuhnya sangat lemah. Banyak peralatan dokter yang ditempatkan pada tubuhnya. Dia dapat mendengar suara Rizan. Halimah tersenyum lemah. Sekarang adalah hari dimana Rizan harus membuktikan, bahwa ia dapat menjalankan syarat yang telah diberikan oleh ayah Halimah.
“Bolehkah saya melamar anak Bapak sekarang” suara Rizan terdengar lirih, menahan haru.
“Tentu saja nak, asal Halimah senang”. Jawab ayah Halimah.
Setelah melakukan ritual lamaran, Halimah tersenyum. Dia sangat menantikan hari ini datang kepadanya. Doa yang ia panjatkan terkabul. Rizan mengecup kening Halimah lembut. Sungguh ini cinta yang kuat, yang didasari atas cintanya Halimah dan Rizan kepada sang khalik.
Beberapa jam setelah itu, Halimah kritis. Alat pacu jantung dipasang di dada Halimah. Tetapi itu tidak berpengaruh. Tidak ada tanda-tanda kalau Halimah akan sadar. Rizan menangis sejadi-jadinya. Dia trenyuh melihat wanita yang baru saja menjadi istrinya terbaring tak berdaya. Nyaris mati. Sempat Rizan membisikan kalimat syahadat di telinga Haliamah, tanpa disangka, Halimah sadar. Dia mengucapkan kalimat yang sama. Kalimat itulah yang dia ucapkan di akhir hayat Halimah. Rizan ikhlas menerima kepergian Halimah. Dia bersyukur, walaupun hanya sebentar, dia dapat merasakan cinta yang tulus diluar cinta yang tulus yang ia berikan kepada Allah. Rizan berucap “Innalilahi wa inalilahi roziiun. Alhamdullilah”.
Rizan menuliskan surat kepada orang tuanya di desa.
“assalamulaikum. Ibu, Bapak, alhamdulilah, dengan bantuan Allah dan kerja keras, anakmu dapat hidup berkecukupan di kota orang. Aku akan pulang, kelak. Untuk membahagiakan Ibu dan Bapak. Tetapi maaf, aku melanggar janji, aku tidak dapat membawa istriku untuk menghadap. Aku telah menikah, tetapi istriku telah hidup bahagia. Di sana, di surga. Dimana tempat kita berada kelak, kekal, abadi. Aku berharap, ibu dan bapak berada di sini, menemani keseharianku. Menamaniku mengaji. Memberiku nasehat. Sekian dulu surat dariku. Wassalam”. Anakmu.
Rizan tidak pernah menikah untuk yang kedua kali. Karena dia percaya, jika orang yang kita cintai lebih dahulu meninggalkan kita, dan kita setia untuk menjaga cinta itu. Maka kelak kita akan bertemu kembali di surga. Amin. (@nickname_rendy)

0 comments: