Pembuktian Akhir Hayat
Langkah kaki tegas
seorang pria dewasa terdengar dari kejauhan di hari yang belum terlalu siang.
Pria itu menuju mushalla kecil yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Mushalla
yang sangat sederhana, yang besarnya kira-kira hanya cukup untuk menampung
50-an jamaah dengan tembok kumuh dan atap yang sudah using. Di situlah pria ini
sering menghabiskan waktu untuk beribadah. Sesampainya di mushalla itu, dia
mengambil air wudhu dan bersiap untuk shalat duha, rutinitas yang dia lakukan
setiap hari sebelum dia pergi untuk bekerja.
Pria itu bernama Rizan,
pria yang berperawakan tidak terlalu tinggi, tidak terlalu kurus tetapi
mempunyai wajah rupawan yang menyejukan. Seakan-akan karisma senantiasa keluar
dari tubuhnya. Di sebuah desa di kawasan yang terpencil dia tinggal bersama
kedua orang tuanya. Rumah yang sangat sederhana, yang hanya terbuat dari
bilik-bilik bambu dan beratapkan rumbia dengan hanya berlantaikan tanah, di situlah
Rizan dan orang tuanya menetap. Sangat sederhana, bahkan bisa dibilang miskin.
Ayah Rizan hanya bekerja sebagai kuli batu yang berpenghasilan sangat minim dan
Ibunya hanya sebagai kuli cuci. Walaupun demikian terbatas kehidupannya, tetapi
Rizan tidak pernah sekalipun mengeluh. Dia merasa sangat kaya, dia bersyukur
dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya. Jika dibandingkan remaja sekarang,
yang hanya mengejar dunia, tanpa memikirkan akhirat, hanya dapat menyombongkan
kekayaan orang tuanya, berbeda jauh dengan kehidupan yang dijalani Rizan yang
serba kekurangan tapi tetap bersyukur. Potret anak yang sangat diidamkan oleh
orang tua manapun.
Hari ini, terakhir
kalinya ia dapat melaksanakan ibadah di mushalla itu. Karena sebelum maghrib,
dia akan berangkat, merantau ke ibu kota. Demi menggapai cita-citanya,
mendapatkan rezeki dari jalan Allah. Orang tua Rizan sangat berat mengizinkan
Rizan pergi, mereka tahu betul bagaimana keadaan ibukota. Terlebih lagi, Rizan
hanya lulusan SMP dan tidak memiliki pengalaman apa-apa. Dia pernah bekerja,
sama seperti ayahnya, tetapi apakah itu cukup untuk modalnya nanti di ibu kota?
Jelas tidak! Saingan di ibu kota keras, seperti kata pepatah “ Lebih keras ibu
kota daripada ibu tiri “. Inilah alasan yang memberatkan orang tua Rizan untuk
memberikan restunya. Tekad Rizan sudah bulat, ia berniat memperbaiki kehidupan
ia dan keluarganya, tanpa melanggar aturan islam. Apapun akan ia kerjakan, yang
penting halal. Melihat tekad dari anaknya yang sangat besar, akhirnya orang tua
Rizan mengizinkan. Hari keberangkatan akhirnya tiba. Dengan membawa pakaian
secukpunya, dan membawa uang yang sangat tidak cukup, tetapi berbekal tekad,
niat dan doa yang lebih dari cukup, Rizan pergi, tidak lupa ia mencium tangan
kedua orang tuanya, seraya pamit.
“Bu, Pak, doakan Rizan
ya! Allah pasti membantu hambanya yang membutuhkan. Rizan akan pulang kelak,
jika sudah mampu dan memiliki istri. Assalamualaikum !”
Setelah beberapa jam
perjalanan, akhirnya Rizan sampai di ibu kota. Uang yang dia punya, hanya cukup
untuk membayar sebuah kos-kosan kecil dan untuk biaya hidupnya selama beberapa
hari. Itu artinya ia harus segera mendapatkan pekerjaan. Rizan bingung, entah
apa yang harus dia lakukan. Setelah beberapa saat berpikir, dia ingat tentang
apa yang di katakan ustadz di daerahnya, bahwa bedagang adalah hal yang
dianjurkan untuk mencari nafkah. Akhirnya Rizan melamar kerja sebagai pedagang
roti keliling.
Dengan doa, dan izin
Allah, akhirnya Rizan mendapatkan pekerjaan. Setiap hari dia menjajakan roti,
tanpa kenal lelah. Walaupun dia bekerja keras, Rizan tidak pernah ketinggalan
untuk melaksanakan ibadah, kewajiban yang harus ia lakukan sebagai umat muslim,
tidak hanya itu, setelah selesai berjualan, dia kerap mengajarkan anak-anak di
sekitar kosnya untuk mengaji. Gratis! Tanpa mengharapkan imbalan. Karena dia
tahu, bahwa rezeki sudah di atur.
Keuntungan yang Rizan
dapat dari 1 buah rotinya adalah Rp. 350-,. Dia bisa saja menaikan hatrga
rotinya, seperti yang dilakukan pedagang lain, tapi Rizan tidak begitu. Tiap
harinya ia dapat menjajakan roti sebanyak 200 buah, hasil yang lumayan untuk
membiayai kehidupannya. Tiap hari, makin banyak roti yang terjual. Dalam 1
bulan saja, Rizan dapat mengantongi keuntungan sebesar 1 juta rupiah, ini semua
diluar perkiraan Rizan.
Pada suatu hari, saat
Rizan sedang menjajakan roti di sebuah pemukiman elite, dia bertemu seorang
gadis, berjilbab, yang menggugah hatinya. Wanita itu membeli roti dari Rizan,
di situlah awal pertemuan Rizan dan wanita itu. Ternyata, wanita itu jatuh cinta
kepada Rizan, pria yang jujur, tekun dan shaleh. Wanita itu sangat mengidamkan
suami seperti Rizan. Karena penasara, wanita itu berani mencari tahu tentang
Rizan. Dia menanyakan nama da alamat tempat tinggal Rizan ke pabrik roti,
tempat dimana Rizan bekerja.
Halimah nama wanita
itu, berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya bekerja di bidang property. Bisa
dibilang, ayah Halimah sukses dalam menjalankan bisninya. Halimah adalah anak
bungsu dari 3 bersaudara. Halimah memiliki 2 kakak pria. Didikan ayah Halimah
sangat disiplin, tetapi sayangnya mengenyampingkan masalah agama. Yang ada
dipikiran ayahnya, hanya urusan dunia. Sukses dimatanya adalah bermateri
melimpah, tanpa memikirkan kekayaan akhlak. Walaupun begitu, Halimah tidak
serta merta meninggalkan masalah agama. Dia tetap shalat 5 waktu, dan
menjalankan ibadah lainnya. Ini yang membuatnya berbeda dengan kakak-kakaknya.
Dalam pikirannya, sangat penting mengejar kekayaan untuk bekal di akhirat,
daripada memikirkan kekayaan dunia yang hanya sementara.
Setelah Halimah
mendapatkan alamat Rizan, dia mengajak teman-temannya untuk belajar agama.
Halimah mengetahui kalau Rizan mempunyai ilmu agama yang melampaui pria
seusianya, ia pun tahu kalau Rizan sering membuka pengajian bersama di kosnya.
Semua informasi ini dia dapatkan dari bos pemilik usaha roti, dimana Rizan
bekerja. Niat Halimah, murni hanya ingin memperkaya ilmu agamanya, tetapi tidak
dipungkiri perasaan cinta Halimah terhadap Rizan mulai terasa. Dia sering
membayangkan, betapa bahagianya jika ia memiliki anak dari seorang pria yang
taat beragama, Rizan akan menjadi suri tauladan yang baik buat anak-anaknya
nanti. Ah! Itu hanya dalam benak Halimah saja, hanya khayalan saja. Tanpa
sepengetahuan Halimah, Rizan pun menaruh perasaan terhadapnya. Dia jatuh cinta
kepada sifat Halimah yang anggun, sederhana dan taat beragama. Dia berpikir,
kenapa orang kaya, mau datang ke pemukiman kumuh tempat ia tinggal, padahal
ayahnya bisa saja menyewa guru agama yang ilmunya lebih tinggi dibandingkan
dia. Ini pula yang membuat Rizan semakin jatuh hati terhadap Halimah.
Pada satu waktu,
setelah melakukan shalat ashar, Rizan memberanikan diri untuk meminta izin
kepada Halimah, agar ia dapat melamarnya. Dia takut kepada Allah, kalau
perasaan ini dipendam, akan timbul maksiat. Tanpa Rizan sangka, Halimah dengan
senang hati menerima. Tetapi ada yang mengganjal di hati Rizan, ia takut
menghadapi ayah Halimah yang notabene sebagai keluarga terpandang. Sedangkan
Rizan, hanya pria yang desa yang bekerja sebagai pedagang roti. Sungguh tidak
pantas ia mendapatkan seorang Halimah.
Dia sangat mencintai
Halimah, mencintai seorang ciptaan Allah, yang didasari atas cintanya kepada
Allah. Dia berpikir, semua umat manusia sama, yang membedakan hanya
ketakwaannya saja. Dengan bermodalkan kalimat tersebut, Rizan memberanikan diri
untuk melamar Halimah. Rizan menghadap orang tua Halimah di rumahnya. Baru
sampai di halamannya, kaki Rizan gemetaran. Betapa megah bangunan ini. Dengan
tekad yang kuat, Rizan masuk. Setelah menyampaikan salam, Rizan bertemu ayah
Halimah.
“Kau pria yang bernama
Rizan?” ucap ayah Halimah.
“Iya pak” jawab Rizan,
tegas. Rizan berpikir dalam hati. Pasti Halimah telah menceritakan maksud
kedatanganku kesini.
“Saya ingin melamar
anak Bapak, apakah bapak berkenan?”. Rizan memulai perjuangannya untuk
mendapatkan Halimah.
“Kenapa saya harus
menerima lamaranmu? Apa yang kau punya?”
Pertanyaan ini tidak
mengejutkan bagi Rizan. Sebagai orang terpandang, pertanyaan ini pasti
dilontarkan. Dengan tenang Rizan menjawab.
“Saya hanya memiliki
cinta dan cita-cita. Cinta yang didasari atas izin Allah SWT. Dan cita-cita
untuk membuat Halimah menjadi istri yang shalehah. Diluar itu, saya akan
melaksankan kewajiban saya sebagai seorang suami. Dengan menafkahi Halimah
lahir batin. InsyaAllah, itu cukup”
“Hahahahaha, apa yang
kau pikirkan anak muda? Semua yang kau butuhkan didunia ini, harus dibayar
dengan uang. Bagaimana caranya kau membahagiakan anakku, sedangkan kau hanya
bekerja sebagai tukang roti keliling” ejek ayah Halimah. “Begini saja, saya
beri waktu 3 bulan. Bila engkau sudah sukses kembalilah kesini. Dengan senang
hati saya akan mengizinkan engkau meminang anak saya. Selama waktu tersebut,
kau tidak boleh bertemu dan berkomunikasi dengan Halimah”.
Rizan berpikir sejenak.
Dia rela berkorban, asalkan itu demi kebahagiaan Halimah.
Dengan lantang dia
menjawab. “InsyaAllah, saya mampu. Saya akan buktikan, kalau saya bisa sukses
dan dapat membahagiakan Halimah”.
Kesepakatan pun
terjadi, dia menceritakan semuanya kepada Halimah. Halimah senang, sekaligus
sedih. Dia senang, karena Rizan rela berkorban untuknya. Ia sedih, karena
ayahnya menolak lamaran Rizan. Yang ia dapat lakukan sekarang, hanya berusaha
dan berdoa.
Ada fakta memilukan
yang tidak diketahui Rizan. Ternyata Halimah memiliki penyakit mematikan, yang
lambat laun telah menggerogoti tubuhnya. Halimah sadar akan hal itu, tetapi dia
tidak mau menceritakan hal tersebut kepada Rizan.
Tidak terasa telah
hampir 3 bulan, Rizan telah membuktikan bahwa ia bisa sukses. Dengan modal uang
yang dia tabung dan ketekunan dia bekerja, serta tidak lupa berdoa, dia dapat
membangun pabrik roti sendiri. Dia telah memiliki sebuah rumah dan mobil
pribadi. Dia senang, karena sebentar lagi dia dapat bertemu Halimah.
Pada suatu sore, rumah
Rizan kedatangan seorang tamu. Tamu penting. Orang yang sangat ingin Rizan
temui. Dia adalah ayahnya Halimah. Rizan telah mendapatkan firasat buruk. Entah
apa yang ia pikirkan sekarang. Ia coba menyangkal pikiran itu, tetapi pikiran
itu terlalu kuat.
“Halimah membutuhkanmu
sekarang. Dia dirawat di Rumah Sakit, karena penyakit yang ia derita. Bisakah
engkau membantuku untuk menemui Halimah?” ajak Ayah Halimah.
Hati Rizan
tercabi-cabik mendengar kabar itu. Dia sangat sedih. Entah apa yang harus dia
lakukan. Dengan wajah yang tidak berekspresi, dia menjawab “Iya pak, kita
segera ke Rumah Sakit sekarang”.
Betapa terkejutnya
Rizan, sesampainya ia di Rumah Sakit. Rizan melihat keadaan Halimah yang begitu
memprihatinkan. Selama ini, Halimah telah menderita kanker rahim stadium akhir.
Sudah terlambat untuknnya menjalankan operasi, karena kankernya sudah menyebar.
Vonis dokter mengatakan, bahwa Halimah hanya berumur 3 bulan lagi.
Walau masih dalam
keadaan sadar, Halimah sangat rapuh. Tubuhnya sangat lemah. Banyak peralatan
dokter yang ditempatkan pada tubuhnya. Dia dapat mendengar suara Rizan. Halimah
tersenyum lemah. Sekarang adalah hari dimana Rizan harus membuktikan, bahwa ia
dapat menjalankan syarat yang telah diberikan oleh ayah Halimah.
“Bolehkah saya melamar
anak Bapak sekarang” suara Rizan terdengar lirih, menahan haru.
“Tentu saja nak, asal
Halimah senang”. Jawab ayah Halimah.
Setelah melakukan
ritual lamaran, Halimah tersenyum. Dia sangat menantikan hari ini datang
kepadanya. Doa yang ia panjatkan terkabul. Rizan mengecup kening Halimah
lembut. Sungguh ini cinta yang kuat, yang didasari atas cintanya Halimah dan
Rizan kepada sang khalik.
Beberapa jam setelah
itu, Halimah kritis. Alat pacu jantung dipasang di dada Halimah. Tetapi itu
tidak berpengaruh. Tidak ada tanda-tanda kalau Halimah akan sadar. Rizan
menangis sejadi-jadinya. Dia trenyuh melihat wanita yang baru saja menjadi
istrinya terbaring tak berdaya. Nyaris mati. Sempat Rizan membisikan kalimat
syahadat di telinga Haliamah, tanpa disangka, Halimah sadar. Dia mengucapkan
kalimat yang sama. Kalimat itulah yang dia ucapkan di akhir hayat Halimah.
Rizan ikhlas menerima kepergian Halimah. Dia bersyukur, walaupun hanya
sebentar, dia dapat merasakan cinta yang tulus diluar cinta yang tulus yang ia
berikan kepada Allah. Rizan berucap “Innalilahi wa inalilahi roziiun.
Alhamdullilah”.
Rizan menuliskan surat
kepada orang tuanya di desa.
“assalamulaikum. Ibu,
Bapak, alhamdulilah, dengan bantuan Allah dan kerja keras, anakmu dapat hidup
berkecukupan di kota orang. Aku akan pulang, kelak. Untuk membahagiakan Ibu dan
Bapak. Tetapi maaf, aku melanggar janji, aku tidak dapat membawa istriku untuk
menghadap. Aku telah menikah, tetapi istriku telah hidup bahagia. Di sana, di
surga. Dimana tempat kita berada kelak, kekal, abadi. Aku berharap, ibu dan
bapak berada di sini, menemani keseharianku. Menamaniku mengaji. Memberiku
nasehat. Sekian dulu surat dariku. Wassalam”. Anakmu.
Rizan tidak pernah
menikah untuk yang kedua kali. Karena dia percaya, jika orang yang kita cintai
lebih dahulu meninggalkan kita, dan kita setia untuk menjaga cinta itu. Maka
kelak kita akan bertemu kembali di surga. Amin. (@nickname_rendy)
0 comments: