Twitter: @Nickname_Rendy
e-mail: Rendymertadiwangsa@gmail.com

JAM KARET



Pada tahu karet kan? Karet itu suatu komoditi yang jadi bahan baku ban dan sejenisnya. Sifatnya elastis, bisa ditarik dan dimanipulasi sedemikian rupa. Tapi kalau di sini, waktu yang bisa ditarik, elastis dan dapat dimanipulasi sedemikian rupa. Fenomena ini biasa disebut dengan istilah jam karet.
Jam karet di Kota Palu sudah sangat membudaya, mengakar, dan menjadi kebiasaan. Mulai dari Mahasiswa, Dosen, Anggota DPR yang (kurang) terhormat, sampai Tokoh Agama. Dari mulai orang yang kaya, sederhana, hingga miskin. Bisa dibilang, 90% masyarakat yang tinggal di Kota Palu menganut paham jam karet ini. Jam karet bisa saya kategorikan sebagai penyakit dan bersifat addictable. Penyakit yang belum ditemukan obatnya (bahkan dengan metode rukiyah), kalau sudah stadium 4 bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Lebih candu daripada narkoba, kalau penderitanya sudah mencoba sekali, pasti akan terulang lagi dan lagi. Ini kenyataan, dan di kampus saya malah aneh kalau ada orang yang on time.
Penyakit ini sudah mewabah di sini, entah sejak kapan dan sampai kapan. Jam karet itu termasuk korupsi; iya, korupsi waktu. Malah menurut saya, korupsi ini lebih parah daripada korupsi uang. Coba perhatikan; para begundal- begundal berdasi yang dianggap berintelektual dan sayang rakyat (bullshit), korupsi uang Negara triliunan. Tapi setidaknya kalau mereka sudah diadili, uang itu (katanya) bisa balik lagi ke Negara. Coba bandingkan dengan korupsi waktu, kalaupun pelakunya sudah divonis bersalah, waktu yang mereka rugikan, sudah pasti tidak kembali kan? Waktu bukan punya Negara, jadi Negara tidak rugi kalau di petik sebanyak apapun, tapi justru diri kalianlah yang rugi. Sangat rugi.

Bagaimana kalau kita berinovasi dan membuat suatu lembaga yang mengadili para pencuri waktu? Memberi nama organisasi itu “Time Stalker” misalnya. Keren kan? Terus kalau terwujud, kita tentu mengadili siapapun yang korupsi waktu. Sewajarnya sebuah organisasi, harus ada ketuanya. Kita (masih berangan-angan) cari ketua yang pasti tidak menganut sistem jam karet. Kita audisi sekian ribu orang yang berminat.
Ah, tapi setelah saya pikir- pikir, orang yang seperti itu susah ditemukan, susah luar biasa, ibarat mencari sebuah jarum di tumpukan jerami. Lagipula tidak mungkin kan “Stalker”nya 100, tapi penderitanya 10.000? tidak akan efektif. Kalau begitu biarlah ini hanya menjadi angan- angan saja, toh berangan- angan juga gratis.
Jangan kesampingkan masalah jam karet, sebut saja ini termasuk masalah vital yang bisa berakibat fatal. Kota yang katanya mau jadi Kota yang maju, tidak akan bisa maju- kalau masih punya masalah ini. Adanya jalan di tempat. Lihatlah, karena kita pernah menjadi penderita jam karet, sebagian mungkin tidak sadar kalau Kota ini tertinggal. Kita selalu menjadi followers, tanpa berusaha untuk menjadi leader. Selalu terbelakang dari segala aspek.
Ini masalah kecil, kita harusnya sadar, kalau kita juga penderita. Tanamkan budaya “On Time” pada diri sendiri. Agar sekiranya tidak disadarkan orang lain terus? Lebih tolol lagi, kalau sudah diingatkan, tapi tidak sadar- sadar.
The point is; kalau kita mau move on dari keterpurukan, kita harus bisa binasakan kebiasaan ini. Mulai dari diri sendiri, kemudian sampaikan ke orang lain. Setidaknya kita jadi suri tauladan buat orang di dekat kita. Nah, kalau semua sudah sadar, saya yakin, lambat laun kota Palu pun mampu menjadi leader bagi kota- kota lain. (@nickname_rendy)

0 comments: