JAM KARET
Pada tahu karet kan? Karet itu suatu komoditi yang jadi bahan baku ban dan sejenisnya. Sifatnya elastis, bisa ditarik dan dimanipulasi sedemikian rupa. Tapi kalau di sini, waktu yang bisa ditarik, elastis dan dapat dimanipulasi sedemikian rupa. Fenomena ini biasa disebut dengan istilah jam karet.
Jam karet di Kota Palu sudah sangat membudaya, mengakar, dan
menjadi kebiasaan. Mulai dari Mahasiswa, Dosen, Anggota DPR yang (kurang)
terhormat, sampai
Tokoh Agama. Dari mulai orang yang kaya, sederhana,
hingga miskin. Bisa dibilang, 90% masyarakat yang tinggal di Kota Palu menganut paham
jam karet ini. Jam karet bisa saya kategorikan sebagai penyakit dan bersifat addictable. Penyakit yang belum ditemukan obatnya (bahkan dengan metode rukiyah), kalau sudah stadium 4 bisa membahayakan diri
sendiri dan orang lain. Lebih candu daripada narkoba, kalau penderitanya sudah mencoba sekali, pasti akan terulang lagi dan lagi. Ini kenyataan,
dan di kampus saya malah aneh kalau ada orang yang on
time.
Penyakit ini sudah mewabah di sini, entah sejak kapan dan sampai kapan. Jam karet itu termasuk korupsi; iya, korupsi waktu. Malah menurut saya,
korupsi ini lebih parah daripada korupsi uang. Coba perhatikan; para begundal- begundal berdasi yang dianggap berintelektual dan sayang rakyat (bullshit), korupsi uang Negara
triliunan. Tapi setidaknya
kalau
mereka sudah
diadili, uang itu (katanya) bisa balik lagi ke Negara. Coba bandingkan dengan korupsi waktu, kalaupun pelakunya sudah divonis bersalah, waktu yang mereka
rugikan,
sudah pasti tidak kembali kan?
Waktu bukan punya Negara, jadi Negara tidak rugi kalau
di petik
sebanyak apapun, tapi justru diri kalianlah yang rugi. Sangat rugi.
Bagaimana kalau
kita berinovasi dan membuat suatu lembaga yang mengadili para pencuri waktu? Memberi nama organisasi itu “Time Stalker” misalnya. Keren kan? Terus kalau terwujud, kita tentu mengadili siapapun yang korupsi
waktu. Sewajarnya sebuah organisasi,
harus ada ketuanya. Kita (masih berangan-angan) cari ketua yang pasti tidak menganut sistem jam
karet. Kita audisi sekian ribu orang yang berminat.
Ah, tapi setelah saya pikir- pikir, orang yang seperti itu susah ditemukan,
susah luar biasa, ibarat mencari
sebuah jarum di tumpukan jerami. Lagipula
tidak mungkin kan “Stalker”nya 100, tapi penderitanya 10.000? tidak akan efektif. Kalau begitu biarlah ini hanya menjadi angan- angan saja, toh berangan- angan juga gratis.
Jangan kesampingkan masalah jam karet, sebut saja ini termasuk masalah vital
yang bisa berakibat fatal. Kota yang katanya mau jadi Kota yang maju, tidak akan bisa maju- kalau
masih punya masalah
ini. Adanya jalan
di tempat. Lihatlah, karena kita pernah menjadi penderita jam karet, sebagian mungkin tidak sadar kalau Kota ini tertinggal. Kita selalu menjadi followers, tanpa berusaha untuk menjadi leader. Selalu terbelakang dari segala
aspek.
Ini masalah kecil, kita
harusnya sadar, kalau kita juga penderita. Tanamkan budaya “On
Time” pada diri sendiri. Agar sekiranya tidak disadarkan orang
lain terus? Lebih tolol lagi, kalau sudah diingatkan, tapi tidak sadar- sadar.
The
point is;
kalau
kita mau move on dari keterpurukan,
kita harus bisa binasakan kebiasaan ini. Mulai dari diri sendiri, kemudian sampaikan ke orang lain. Setidaknya kita jadi suri tauladan buat
orang di dekat kita. Nah, kalau semua sudah sadar, saya yakin, lambat laun kota Palu pun mampu menjadi leader
bagi kota- kota
lain. (@nickname_rendy)

0 comments: